prosedur bunker dikapal

prosedur bunker dikapal

BUNKER

bunker  adalah sebua kegiatan yang dilakukan diatas kapal yang melibatkan kapal tongkan dan pelabuhan, kegiatn bunker ini bertujuan untuk mengisi bahan bakar kapal, agar kapal tersebut siap untuk berlayar, adapun beberapa rosedur yang dilakukan pada saat bunker antara lain:

PERSIAPAN AWAL (initial preparation)

KKM mempunyai tanggung jawab penuh dan mengawasi segala pengoperasian bunker. Kerja sama yang baik harus dibangun antara Masinis, Mualim dan juga orang-orang terminal di darat atau tongkang minyak selama proses pengoperasian bunker.

KKM harus memastikan bahwa semua orang yang terlibat dengan pengoperasian bunker tersebut telah mengetahui sistem perpipaan minyak diatas kapal termasuk posisi  pipa over flow dan pipa ventilasi udara, tangki over flow, pipa sounding dan alat pengukur permukaan.
Bak penampungan minyak yang ukurannya cukup harus diletakkan dibawah sambungan selang dan flange selama pengoperasian berlangsung untuk menampung tetesan minyak dari plage sambungan. Bak penampungan ini harus dikosongkan bila  minyak di dalamnya  sdah banyak, dialirkan bila ada saluran pipanya atau ditimba seperlunya.

Pada saat bunker di dermaga, tali tros dan tali spring kapal harus diikat aman dan selalu dijaga ketegangannya, ukuran / jumlah tali tros dan spring harus disesuaikan dengan beban (kondisi angin) agar mengurangi pergerakan kapal.

KKM harus memastikan bahwa sistem komunikasi yang disepakati adalah yang terbaik dan memeriksa alat-alat komunikasi bekerja dengan baik. dalam perencanaan bunker harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
  1. Harus diyakini bahwa semua awak kapal yang terlibat siap dan tanggap atas segala kemungkinan yang mungkin terjadi. (Ensure all personnel are aware of intention to bunker, as well as emergency response procedures). 
  2. Diskusi rencana pengisian BBM dan urutan pengisian tangki dengan Mualim yang terlibat. (Discuss bunkering plan & tank sequence with officer involved).
  3. Tutup dan amankan semua katup pembuangan. (Close & secure all associated overboard discharge valves). 
  4. Tutup dan pasang flensa kedap untuk manifol yang tidak terpakai. (Close & blank off all unnecessary manifold valves / connections). 
  5. tutup semua pembuangan air geladak agar kedap minyak / air. (Plug all desk scuppers & make oil/water tight). 
  6. Bersihkan disekitar tempat pengisian , amankan semua penyumbat. (Empty out & plug save-alls).
  7. Siapkan material penyerap (oil absorbent) di lokasi tertentu. (Place oil absorbent materials in key locations).
  8. Siapkan sarana pengeringan air yang terkumpul digeladak. (Provide means of draining off any accumulations of water on deck). 
  9. Siapkan sarana komunikasi antara tempat pengisian, mualim jaga dan kamar mesin. (Establish common communication link between bunkering station,duty officer & engine room).
  10. Periksa apakah pipa udara tangki BBM sudah terbuka. (Check all bunker tank air pipes are open & unlogged). 
  11. Pastikan apakah penutup pipa duga telah kedap kecuali yang sedang dipakai. (Ensure all sounding pipe caps are tight,except when sounding tank). 
  12. Pastikan apakah konfirmasi ruang masih tersedia dari tangki BBM diisi. (Reconfirm space remaining in all bunker tank to be filled). 
  13. Periksa apakah semua high level alarm tangki BBM masih berfungsi. (Check all bunker tank high level  alarm are functioning). 
  14. Harus diyakini bahwa semua sarana PMK telah disiapkan. (Ensure all fire precautions are observed).

MENJELANG PENGISIAN BBM  (prior to bunkering)

KKM  menyounding seluruh tangki minyak, dan menghitung jumlah ROB yang ada didalam tangki, dan menentukan jumlah bunker yang akan diisi ke setiap tangki hingga batas yang aman (max. 80% volume) dan merencanakan urutan pengisian pada setiap tangkinya, batas max. pengisian tersebut dimaksudkan agar supaya menghindari overflow apabila kapal memasuki daerah yang bercuaca buruk yang menyebabkan kapal rolling dengan derajat kemiringan yang cukup besar.

KKM harus memeriksa kondisi peralatan yang digunakan, baik peralatan dari pelabuhan maupun peralatan yang dipasok oleh pencharter yang nantinya akan digunakan untuk operasi bunker kemudian melaporkannya kepada Nahkoda.

Mualim I/ Mualim  harus memastikan bahwa semua lubang pembuangan yang berada di deck / main deck yang membatasi pipa peranginan udara, lubang pembuangan air deck utama harus ditutup selama operasi bunker berlangsung.

persiapkan sopep bahan-bahan yang mampu penyerap minyak seperti pasir, serbuk gergaji, majun secukupnya untuk menjaga bila ada tumpahan/ tetesan minyak yang terjadi.
KKM memrintahkan kepada pihak pemasok / supplier bunker untuk kecepatan tekanan pengisian (max rate) dan tekanan pengisian harus sesuai dengan batas yang diijinkan.

KKM  meminta unit pengukuran yang digunakan oleh pemasok / supplier bunker (barrels, ton, long atau short / metric ton). KKM diharuskan membuat aturan untuk menyounding tangki di tongkang atau flow meter di terminal.

Sebelum memulai pemompaan minyak kekapal kedua belah pihak harus membuat persetujuan tentang tanda/isyarat yang digunakan sebagai contoh untuk memulai penyaluran minyak, slowdown, selesai bunker, emergency stop, etc.

KKM mempersiapkan permintaan oil boom / oil fence tertulis kepada pihak supplier. Surat permintaan oil boom / oil fence harus ditandatangani pihak kapal dan kapal bunker / supplier.
adapun persiapan yanng harus dilakukan menjelang bunker dalah sebagai berikut:
  1. Pastikan apakah panjang selang telah mencukupi. (Check hose & is of sufficient length).
  2. Periksa apakah ada kerusakan pada selang dan kopling. (Inspect hose & coupling for damage).
  3. Pastikan berat selang tidak melebihi SWL derek boom. (Check weight of hose does not exceed SWL of vessel's lifting gear). 
  4. Siapkan bak penampung dibawah kopling selang. (Place drip trays under hose couplings & plunges). 
  5. Periksa apakah spesifikasi dan value telah sesuai. (Check delivery note quantity&specification are correct). 
  6. Diskusikan rencana pengisian dengan pihak pemasok. (Discuss bunkering plan with supplier). 
  7. Diskusikan tindakan-2 darurat sesuai prosedur dengan pemasok. (Discuss vessel's emergency response procedures with supplier). 
  8. Diskusikan prosedur respon dari pemasok jika terjadi keadaan darurat. (Discuss supplier's own emergency response procedures). 
  9. Siapkan jalur komunikasi antara kapal dengan pemasok. (Establish communication link between  vessel and supplier). 
  10. persetujuan Volume BBM yang dipompa oleh pemasok ke kapal. (Agree with supplier the quantity of oil to be pumped aboard). 
  11. Setuju satuan ukuran (metrik ton, meter kubik, barrel).(Agree unit of measure (metric tones, cubbies  metres, barrels, etc). 
  12. Setuju kecepatan dan tekanan maksimum pemompaan. (Agree maximum pumping rate & pressure). 
  13. Lakukan analisa spot dengan sarana yang ada di kapal (bila tersedia).Carry out spot analysis with vessel's fuel test kit (if available). 
  14. Lakukan test kesesuaian (bila tersedia sarana). Conduct compatibility test, if necessary. 
  15. Setujui kecocokan pembacaan meter dari darat / tongkang. (Sight,agree&record shore barge meter readings). 
  16. Tunjuk seorang ABK untuk membentangkan tali tambat selama pengisian BBM. (Appoint seamen to tend mooring lines during bunkering). 
  17. Pasang kasa-kasa api didepan dan dibelakang. (Rig fire wires fore & aft).
  18. Yakin bahwa tangki limpah telah disiapkan. (Ensure designated overflow tank is prepared).
  19. Persiapan pipa isi dan buka katup-katup yang diperlukan. (Prepare filling line & open all  relevant valves).

SELAMA PENGISIAN (DURING BUNKERING)

Memulai bunker harus dengan tekanan pemompaan yang terendah, sehingga aliran dapat segera dihentikan bila ada terjadi kebocoran. Tekanan aliran minyak harus dipantau saat memulai bunker untuk memastikan tekanan kerjanya tidak melebihi batas maksimal.

Selang-selang dan peralatan lainnya harus diperiksa secara teratur untuk mengetahui adanya kebocoran atau kerusakan. Perhatian yang paling khusus adalah untuk menghindari terjepitnya selang diantara kapal dan dermaga. Secara teratur memeriksa posisi boom / oil fence, terpasang sesuai dengan kebutuhan pencegahan pencemaran.

adapun prosedur yang harus dilakukan selama proses bunker berlangsung antaralain:
  1. Mulai pemompaan dari kecepatan minimal. (Commence bunkering at minimum pumping rate).
  2. Monitor tekanan pipa pengisian (Monitor supply line pressure).
  3. Periksa apakah ada kebocoran selang (Examine hose connections for leakage).
  4. Kurangi kecepatan pemompaan dan/atau buka tangki sebelum ditambah (Reduce pumping rate and/or open tank before topping up). 
  5. Tutup katup setiap selesai pengisian satu tangki (Close valves as each tank is complete). 
  6. Saksikan tanggal dan tanda tangan bersama sisakan untuk stempel dan disegel (Witness, date, jointly countersign & retain sealed bunker samples). 
  7. Yakinkan setelah selesai lakukan ullage untuk pengeringan selang / penutupan saluran (Ensure sufficient ullage in final tank for hose draining/line blowing). 
  8. Beritahukan pemasok bila telah mencapai tangki terakhir (Notify supplier when final tank is reached). 
  9. Beri kesempatan kepada pemasok untuk memberi peringatan kecepatan (Give suppliers timely warning  pumping rate). 
  10. Beri waktu bagi pemasok untuk memberi aba-aba berhenti (Give suppliers timely warning to stop pumping). 
  11. Keringkan selang setelah selesai pengisian dan tutup semua katup isi (Drain hoses on completion of bunkering, & close all filling valves).

 SETELAH SELESAI PENGISIAN (on completion of bunkering)

Katup pengisian dikapal tidak boleh ditutup sebelum pompa darat atau tongkang dihentikan, setelah katup ditutup sisa-sisa minyak diselang harus dikeringkan.

Pasanglah blind flange pada pipa penerima bunker tersebut (manifold). Katup pengisian ke tangki juga harus ditutup.

Pengecekan sounding yang terakhir harus diambil dan dihitung jumlah minyak yang diterima berdasarkan Specific Gravity (SG) dan temperatur. Dengan cara yang sama pengukuran sounding juga dilakuan terhadap tongkang atau pembacaan flow meter didarat untuk mencocokkan jumlah yang diterima, bila ada ketidakcocokan (terlampau jauh berbeda) maka perlu diperiksa sebelum nota tanda terima bunker ditanda tangani.
adapun prosedur yang harus dilakukan setelah proses bunker berakhir antaralain:
  1. Yakinkan bahwa semua selang telah dikeringkan (Ensure all hoses are full drained).
  2. Tutup dan pemasangan flensa buta dari manifol telah dilakukan (Close & blank off manifold connection). 
  3. Tutup dan lepaskan sambungan kopling selang (Blank off disconnected hose couplings). 
  4. Konfirmasi ulang apakah semua pipa isi dan katup isi tangki telah ditutup (Reconfirm all bunker line & tank filling valves are secured). 
  5. Konfirmasi ulang semua pipa duga tangki bahan bakar (Reconfirm all bunker soundings). 
  6. Tetapkan dan setujui catatan pembacaan dari tongkang dengan kapal (Sight, agree & record shoe/barge meter readings). 
  7. Periksa apakah penerimaan telah benar (Verify all bunker receipt details are correct). 
  8. Isi oil record book (Complete entry into Oil Record Book).

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

2 komentar

komentar

silahkan berkomentar secara bijak dan sesuai dengan topik pembahasan. TERIMAKASI